Jumat, 21 Agustus 2009

Suap untuk menjadi PNS

Jumat, 14 Agustus 2009 kemarin saya tertarik untuk membaca tulisan Jaya Suprana yang bertajuk “PNS.” Ketertarikan saya adalah karena adanya anggapan masyarakat luas bahwa untuk menjadi PNS, kita perlu merogoh kocek yang tidak sedikit, 100 juta rupiah!
Satu sisi, anggapan tersebut benar karena ada segelintir oknum yang memanfaatkan momen tersebut untuk mencari keuntungan. Di sisi lain, anggapan tersebut salah karena tidak sedikit instansi pemerintah yang benar-benar menyelenggarakan proses penerimaan CPNS secara profesional.

Fakta

Akhir tahun 2008 lalu saya mengikuti beberapa rangkaian tes penerimaan CPNS di dua instansi pemerintahan, satu di salah satu Pemda kabupaten di pulau Sumatra dan satu lagi di sebuah departemen teknis. Selesai menyelesaikan tes di Sumatra, kakak ipar saya memberitahu bahwa biasanya diperlukan uang 80 juta rupiah untuk menjadi PNS di sana, seraya menunjuk tetangga depan rumah yang sedang berusaha menjual Toyota Kijangnya demi sang anak yang sedang mendaftar CPNS. Antara percaya dan tidak, yang jelas saat itu saya masih berpikiran positif, optimis dengan kemampuan sendiri. Karena saat itu saya telah bekerja di sektor swasta, saya hanya percaya jika tidak diterima menjadi PNS, masih banyak lapangan kerja lain di sektor swasta.
20 Desember 2008, saya dinyatakan diterima di kedua tempat tersebut TANPA SEPESERPUN uang pelicin! Sama halnya jika saya melihat teman-teman kuliah, termasuk kakak dan adik angkatan yang diterima sebagai PNS di berbagai tempat, saya berani mengatakan bahwa 100% dari mereka tidak ada yang menggunakan uang pelumas. Memasuki departemen tempat saya bekerja sekarang, saya melihat teman-teman kerja satu angkatan saya juga hampir semua melewati proses rekruitmen yang sama. Sebagian besar dari mereka berasal dari universitas-universitas papan atas seperti UGM, UI, ITB, IPB, UNAIR, UNDIP, UNPAD dan ITS.
Saat ini, departemen tempat saya bekerja sedang melaksanakan proses penerimaan CPNS tahun 2009 yang dilaksanakan dalam 4 tahapan tes, yaitu tes on-line, TPU/TPA, psikotes dan tes wawancara, dimana 50% tes menggunakan materi berbahasa Inggris. Adalah sangat mubadzir jika untuk menerima pegawai-pegawai “tukang suap” saja, sebuah departemen harus bersusah payah untuk menyelenggarakan proses rekruitmen yang begitu panjang, melelahkan dan menghambur-hamburkan uang negara. Coba bandingkan dengan beberapa instansi lain yang untuk menyeleksi belasan bahkan puluhan ribu pelamarnya hanya dilakukan dengan sekali tes saja. Mengikuti tes di instansi seperti ini seperti sedang berjudi, entah kriteria apa yang digunakan untuk memilih peserta yang hendak diluluskan.

Pembenahan

Suka tidak suka, pilihan untuk menjadi PNS sekarang memang sedang naik daun. Oleh karena itu, saya mengajak masyarakat secara umum agar menghindari cara-cara kotor untuk mendapatkan predikat PNS. Kasus suap ini bisa terjadi karena ada oknum pejabat yang memulai, dapat juga terjadi karena pihak penyuaplah yang memulai. Andai saja seluruh masyarakat berkomitmen untuk menghindari cara ini, maka tidak akan ada oknum pejabat yang berani bertingkah.
Dulu ketika saya ceritakan tentang keberhasilan saya masuk CPNS, seorang teman saya langsung bertanya, “habis berapa duit?” Saya hanya menggeleng kepala, saya sadar bahwa inilah stigma yang ada di masyarakat kita, dampak dari praktek suap di negara ini. Praktek ini juga yang membuat orang-orang yang benar-benar berprestasi menjadi ikut tercibirkan! Pertanyaan yang cocok jika dilontarkan semasa orde baru itu kini mencuat kembali tanpa memperhatikan betapa gigih usaha beberapa instansi pemerintah untuk mewujudkan reformasi birokrasi menuju sebuah kepemerintahan yang baik (good governance).

Komitmen bersama

Sebenarnya, negara sangat dirugikan dengan diterimanya para “tukang suap” menjadi abdi negara. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang ketika bekerja hanya akan berusaha untuk mengembalikan “modal” yang telah dikeluarkan. Pekerjaan mereka di kantor hanyalah menuntut, tanpa melihat apa yang telah mereka kerjakan. Dan satu hal yang pasti bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak PeDe, tidak mempunyai semangat tempur dan para pencari jalan pintas untuk menyelesaikan sesuatu.
Marilah kita bersama-sama menghindari praktek suap dalam proses penerimaan CPNS. Saya mengajak masyarakat umum untuk merubah pandangan yang selama ini tertanam bahwa untuk menjadi PNS harus diperlukan dana puluhan juta rupiah. Masih banyak instansi pemerintah yang melakukan proses penerimaan CPNS secara profesional. Kita harus memulai, hindari kekhawatiran bahwa jika kita tidak memberikan uang pelicin, maka orang lain akan mengambil kesempatan itu. Jika di antara kita tidak ada yang mau memberikan suap, maka tidak akan ada pejabat yang berani “memasang tarif.”

Rabu, 05 Agustus 2009

Tips Mendaki Gunung


Bagi anda para pecinta kegiatan adventure yang satu ini, terutama jika anda Pemula, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan supaya keselamatan kita lebih terjaga.
  1. Bawa peralatan lengkap; tenda/dome, sleeping bag, senter, alat komunikasi, sepatu tracking, sendal jepit, kompor gas + tabung gas cadangan, mantel hujan, pakaian cadangan, pisau (jika diijinkan petugas), kaos kaki, kaos tangan, korek api, kompas, GPS handheld (jika ingin lebih mudah dan aman perjalanan).
  2. Bawa bekal makanan + air minum lengkap; air minum setidaknya 3 lt untuk gunung dengan track sedang dan tidak melewati sumber air/sungai seperti rata-rata gunung di Jawa Tengah.
  3. Bawa obat-obatan lengkap untuk first aid kit.
  4. Mendakilah pada cuaca/musim yang baik (ikuti petunjuk petugas)
  5. Biasakan mendaki pada pagi/siang hari, malam hari digunakan untuk istirahat, masak-masak, makan dan bersenda-gurau.
  6. Ikuti saran dari juru kunci gunung.
  7. Jaga jarak antar anggota tim, jangan terlalu jauh.
  8. Jangan mendaki gunung sendirian, usahakan setidaknya 4 orang dalam satu tim.
  9. Jika ada anggota yang sakit, usahakan untuk mencari tempat lapang (shelter) untuk mendirikan tenda dan istirahatlah. Jika kondisinya tidak membaik, segera bawa turun. Jika tim terdiri dari 9 orang/lebih, tim bisa dibagi antara yang menemani turun dan yang ingin melanjutkan perjalanan naik.
  10. Sweeper (anggota yang berjalan di belakang) harus orang yang sudah memiliki pengalaman mendaki.
  11. Jangan membuang sampah di gunung, bawalah sampah kembali turun.
  12. Jangan meninggalkan bekas api dalam kondisi masih hidup, siramlah sampai benar-benar mati (api/bara-nya).
Sekian tips ini, semoga bermanfaat.
Ingat, Jangan tinggalkan sesuatu pun kecuali jejak kaki Anda!!
Jagalah kelestarian hutan/alam kita.

Salam,
Ikhwan_da

Senin, 03 Agustus 2009